Viral! Induk TikTok PHK Ratusan Karyawan

Viral! Induk TikTok PHK Ratusan Karyawan dari Divisi Game

Viral! Induk TikTok PHK Ratusan Karyawan dari Divisi Game

Viral! Induk TikTok PHK Ratusan Karyawan dari Divisi Game

Viral! Perusahaan Induk TikTok PHK Ratusan Karyawan dari Divisi Game. Belakangan Trend pemutusan hubungan kerja (PHK) pada sejumlah perusahaan teknologi kian bergejolak. Kali ini merujuk pada induk perusahaan platform media sosial berbagai video secara online TikTok yaitu ByteDance.

ByteDance yang sempat berupaya mengikuti pergerakan dari industri game, kini harus sedikit mengendurkan semangatnya. Mereka di ketahui telah memangkas sejumlah karyawannya dari divisi video game. Hasil pantauan dari berbagai sumber, salah satunya Game Industry, Rabu (7/9/2022),

pekerja yang di berhentikan pun hingga ratusan orang. Jumlah itu berasal dari staf developer game Wushuang Studio yang berbasis di Shanghai. Penghapusannya sendiri di lakukan ByteDance melalui pemecatan, maupun memindahkan sebagian karyawan ke divisi lain perusahaan.

Selain itu, terdapat sumber lain mengungkapkan, ada pemotongan pekerja di developer game Jiangnan Studio yang berada di Hangzhou. Kendati demikian, ternyata ada beberapa orang dipertahankan. Hal ini mengingat ada judul-judul yang sudah terlanjur menyambangi para gamer.

ByteDance sendiri sudah berinisiatif melakukan suntikan dana besar-besaran ke game, sejak dua tahun lalu. Kemudian mendorongnya untuk merekrut lebih dari 900 staf baru pada tahun 2020.

Dikabarkan usaha yang mereka lakukan tersebut, untuk meniru kesuksesan sesama raksasa teknologi asal China, yakni Tencent. Pengembang PUBG Mobile itu, memang sudah menjadi pawang bagi beberapa game mobile di Android maupun iOS.

Trend PHK Mulai Menjalar Ke Publisher Game Lainnya

Selain itu, pemecatan karyawan di industri game juga terjadi pada pengembang dan penerbit Free Fire, yaitu Garena. Di beritakan sebelumnya, melalui induk perusahaan Garena, Sea Limited, diketahui mereka sudah rugi USD 1 miliar atau sekitar Rp 14,9 triliun.

Kerugian itu memaksa mereka menghentikan layanan live streamingnya bernama Booyah! dan menutup beberapa proyek yang sedang dikembangkan. Kabarnya, pengurangan yang terjadi hingga 30-40 posisi.

Alasannya sendiri di katakan Sea kepada Reuters, bahwa perusahaan membuat beberapa perubahan untuk meningkatkan efisiensi dalam operasinya yang berdampak pada sejumlah peran. Mereka ingin fokus pada kekuatan jangka panjang untuk ekosistemnya.

Related Posts