Akhirnya Tabir Kebenaran Terbuka, Pengakuan Seorang JK

Akhirnya Tabir Kebenaran Terbuka, Pengakuan Seorang JK

https://en.wikipedia.org/wiki/Jusuf_Kalla

Akhirnya Tabir Kebenaran Terbuka, Pengakuan Seorang JK, Tulisan yang mengatasnamakan Jusuf Kalla (JK) merupakan Hoaks Lama Bersemi Kembali (HLBK). Sudah berulang kali muncul sejak tahun 2017. Tulisan itu bukan pengakuan JK. Tulisan itu merupakan opini dari Erizeli Jely Bandaro.

Narasi:

Akhirnya Tabir Kebenaran Terbuka…

Teman teman bacaLah pengakuan seorang JK berikut sebagai Saksi sejarah Indonesia♥

*ARTIKEL SANGAT BERHARGA*

Pengakuan jujur Jusuf Kalla terhadap keberhasilan Joko Widodo dalam mengelolah negara, sehingga Indonesia perlahan lolos dari beban utang peninggalan era Soeharto dan masa SBY, yang telah membuat Indonesia harus menanggung utang hingga Rp. 6000 triliun dengan dalih ‘subsidi,’ yang hanya memperkaya dirinya sendiri dan konco-konconya; silahkan membaca tulisan berikut sampai selesai, agar kita paham mengapa kini Indonesia perlahan menjadi negara hebat di Asia dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama di era Joko Widodo.

“PERJUANGAN MORAL JOKOWI bagi INDONESIA”

Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK) dalam sambutannya di acara “Simposium Ekonomi” di MPR RI, Senayan, mengatakan bahwa ada 2 kebijakan keliru yang dilakukan pemerintah era Soeharto dan SBY, sehingga menghabiskan anggaran Rp. 6000 triliun.

Kebijakan itu menjadi salah satu penyebab ketertinggalan Indonesia dari negara-negara tetangga. Satu kebijakan era Soeharto dan satu lagi era SBY.

Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, tidak ada riak yang berarti untuk menghentikannya. Saat Soeharto jatuh, tatkala fundamental ekonomi yang disimpan rapat bertahun-tahun terbuka lebar oleh aksi George Soros terkuak.

Puluhan tahun menyimpan data busuk dan kebohongan

Nyatanya berpuluh tahun kita menyimpan data busuk dan kebohongan. Tidak ada kekuatan ekonomi secara nyata. Tidak ada. Soeharto tidak punya rencana hebat untuk membuat Indonesia hebat dalam sektor ekonomi, kecuali hanya menggali lubang sedalam-dalamnya melalui hutang tanpa rencana ril untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik.

Dari jumlah hutang yang digali Soeharto hanya 30% yang digunakan untuk membangun Indonesia. Selebihnya habis dikorup oleh mereka yang menopangnya menjadi penguasa selama 32 tahun.

Akibat kebijakan yang diambilnya sebelum jatuh adalah menanda tangani LoI dengan IMF sebagai blank cheque yang harus diselesaikan oleh rezim setelahnya. Beban masalah yang ditinggalkan Soeharto kalau dikurskan sekarang dan ditambah dengan bunga obligasi rekap mencapai Rp. 3000 triliun.

Era Habibie, Gus Dur, dan Megawati merupakan era tersulit bagi kita untuk berdamai dengan kenyataan. Indonesia dinyatakan sebagai negara insolvent. Semua financial resource tertutup. Pemasukan lebih kecil dari pada pengeluaran. Kehidupan politik tidak jelas.

Enam tahun proses transisi dari legislasi era Soeharto ke era reformasi seakan waktu terpanjang dalam sejarah. Selama itu tidak ada pembangunan real. Negara stuck. […] (dilanjutkan pada bagian CATATAN setelah REFERENSI).

Penjelasan:

Beredar postingan dengan tulisan yang diklaim sebagai tulisan dari Jusuf Kalla. Dalam postingan itu membahas mengenai kelebihan kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo pada periode pertama bersama Jusuf Kalla.

Berdasarkan hasil penelusuran, diketahui bahwa postingan itu ialah Hoaks Lama Bersemi Kembali (HLBK). Sudah pernah beredar sejak 2017, 2018, hingga 2019.

Pada tahun 2017, pihak Jusuf Kalla, melalui Juru Bicaranya, sudah membantah bahwa itu bukan tulisan Jusuf Kalla. Berikut kutipan pemberitaannya:

Istana Wapres Bantah Tulisan JK yang Beredar di Medsos

Jakarta – Media sosial diramaikan oleh sebuah tulisan yang disebut berasal dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), yang intinya menyalahkan pimpinan Indonesia terdahulu soal pengelolaan negara. Pihak Istana Wakil Presiden membantah tulisan yang beredar itu berasal dari JK.

“Ini sedang beredar di sosmed. Informasi ini bias, hasil pelintiran. Tidak pernah Pak JK membuat tulisan seperti ini,” kata juru bicara JK, Husain Abdullah, kepada detikcom, Sabtu (30/12/2017).

Berdasarkan penelusuran detikcom, Minggu (30/12), tulisan yang beredar di media sosial itu berjudul ‘Dari Jusuf Kalla: Re-send Perjuangan Moral Jokowi’. Dalam tulisan itu, penulis yang seakan-seakan menjadi JK menuliskan kesalahan-kesalahan pimpinan Indonesia terdahulu.

Tulisan itu menyindir pemerintahan Soeharto selama 32 tahun dan soal letter of intent (LoI) dengan IMF serta cek kosong. Era SBY dalam tulisan itu juga disinggung dengan tudingan anggaran biaya untuk subsidi langsung ke masyarakat.

Bahkan tulisan itu politik bagi-bagi uang dari mantan pimpinan Indonesia sebelumnya.

“Dan sepertinya tulisan di atas dipelintir dari bicara Pak JK yang disampaikan pada simposium nasional bertema ekonomi yang digelar oleh MPR RI bulan Juli 2017,” ujarnya.

Husain mengatakan, dalam bicara saat itu, JK tidak menyalahkan siapa pun. JK hanya menggambarkan penyebab-penyebab keterlambatan Indonesia dibanding negara-negara di dunia.

“Dalam bicara tersebut, tidak menyalahkan siapa pun kecuali menjelaskan keterlambatannya kemajuan Indonesia dibandingkan negara lain,” ucapnya.

Dia kembali menegaskan bahwa tidak ada tulisan yang dibuat JK yang memojokkan presiden-presiden sebelumnya. […]

Lalu, berdasarkan hasil pemeriksaan fakta yang sudah ada di turnbackhoax.id, diketahui bahwa penulis sebenarnya adalah menemukan akun Facebook atas nama Erizeli Jely Bandaro. Adapun yang bersangkutan sudah memberikan klarifikasinya. Berikut kutipan klarifikasi Erizeli Jely Bandaro:

 

TULISAN ” PERJUANGAN MORAL: JOKOWI.”

Ketika saya memposting tulisan Perjuangan Moral : Jokowi, salah satu sahabat saya yang dapat share dari WAG mengatakan bahwa tulisan saya menggetarkan lawan politik Jokowi. Tulisan itu beredar luas lewat WAG dari kalangan pejabat, politik, kampus dan aktifis. Saya katakan bahwa tulisan saya hanyalah “narasi” di atas dasar bicara JK di Gedung MPR. Jadi saya tidak menulis dengan sengaja memelintir kata JK tapi murni itu opini pribadi saya atas isi bicara JK tersebut.

Agar tulisan itu dapat di pertanggung jawabkan maka, tulisan itu saya muaturun di blog. Sehingga semua orang bisa membaca secara bebas dari sumber tulisan saya.. Aturan menulis dalam blog saya ikuti. Bahwa setiap pendapat harus berdasarkan referensi yang kuat. Di awal tulisan , saya sampaikan pernyataan JK sebagaimana berita Detik dilaporkan. Saya menggunakan fitur link pada nama Nara sumber sehingga pembaca dapat langsung mengklik untuk mendapatkan informasi yang seimbang. Jadi saya memberikan kebebasan kepada pembaca untuk menilai apakah narasi saya benar sesuai bicara JK ataukah tidak.?.

Dalam narasi, saya secara literal mengungkapkan fakta yang dirasakan dan dilihat oleh semua orang. Soal kejatuhan Soeharto rupiah terjun bebas, dan kemudian era SBY yang menimbulkan mega skandal korupsi dan triliunan uang untuk subsidi juga fakta, bahkan saya lampirkan data statistik dari pemerintah. SIlahkan baca blog yang dibawah ini.

KLARIFIKASI

Kalau ada pihak yang menggunakan tulisan saya itu dengan menggunakan akun falsu atas nama JK, itu diluar tanggung jawab saya. Karena ketika tulisan saya dimuat di blog, maka itu menjadi konsumsi publik , yang siapapun bisa menggunakannya. Apakah saya dirugikan atau tidak karena disalah gunakan untuk tujuan politik, maka itu urusan UU ITE. Yang jelas dalam tulisan itu, saya tidak mencatut nama JK untuk informasi tanpa berdasar atau memuat tulisan diblog tanpa menyebut sumber sebagai referensi. Saya tidak mengajak orang membenci tapi menyadarkan orang tentang fakta masa lalu, yang nampaknya ada upaya untuk melupakan masa lalu itu agar di masa kini, di era Jokowi mereka bebas menyalahkan Jokowi dengan segala issue omong kosong.

Apakah saya salah karena tulisan di blog ? itu hak siapapun untuk menilai. Tapi tentu hak saya juga untuk bicara. Bukankah kita mengakui dan menerima demokrasi. Tulisan saya tidak sekeras tulisan lawan politik Jokowi. Tapi kalau itu membuat orang lain tidak suka, ya itulah harga yang harus saya bayar secara moral untuk membela orang baik. Kepada Tuhan saya berserah diri. […]

Atas dasar itulah, postingan yang baru beredar di Oktober 2019 sudah pasti bukan tulisan Jusuf Kalla. Hal yang cukup menandakan bahwa postingan itu bukan buah tulisan Jusuf Kalla dapat terlihat dari penulisan nama di akhir postingan. Tertulis ‘Jusup Kalla’ sebagai namanya. Padahal, nama yang benar ialah ‘Jusuf Kalla’.

Berdasarkan hal tersebut, maka postingan tersebut masuk kategori Imposter Content atau Konten Tiruan. Sebab, postingan itu seolah-olah merupakan hasil tulisan dari Jusuf Kalla padahal tidak. SUMBER: https://turnbackhoax.id/

Related Posts